Berbahagialah Bersamanya



Prolog

Untukmu seseorang yang jauh disana 
Aku sudah melupakanmu .
juga semua harapan-harapan yang kau berikan padaku

sesekali aku membuka lembaran memori kenangan tentangmu.
walau lucu rasanya , karna aku tidak pernah menjadi apa apa dalam bagian hidupmu , hanya seseorang yang berusaha mendapatkan cintamu walau gagal pada akhirnya.
Bukan maksudku untuk mengenangmu.
Bukan.

Aku hanya ingin memastikan bahwa kali ini hatiku sudah baik-baik saja.
Tak ada lagi Sesak Dalam dada.

Ya
Jika dulu aku diselimuti oleh sesak dan isak,
Kini, telah Aku pastikan.
Sekali lagi, aku benar-benar sudah baik-baik saja, aku tak lagi labil dalam menyikapi luka,
Semua luka yang pernah ada memang pernah membuatku terjatuh.
Namaun aku sadar,
Luka tak selamanya tentang keterjatuh,
Namun tentang sebuah pembelajaran.

Aku belajar untuk tak menaruh harap sembarangan.
Aku belajar untuk mencintai tanpa mengharapkan balasan.
Aku belajar untuk tidak hanya meletakkan cinta kepada seseorang yang "hanya menurutku tepat"
Terima kasih karna telah memberiku harap walau sesa'at .


Dan, kali ini aku malas berkawan dengan harapan.
Biarlah doa yang kulangitkan dan menjadi penenang.
Muhasabah diri untuk menuju perbaikan.

Untukmu seseorang yang pernah menorehkan luka.

Semoga disana Kau baik-baik saja,
Terima kasih untuk sebuah perkenalan.

Terima kasih untuk sebuah cinta dan harapan yang pernah kau tawarkan.
Tak ku pungkiri bahwa kau adalah seseorang yang pernah teramat kusayangi.
Semoga kau mendapatkan seseorang yang lebih baik dari kuDariku, seseorang yang pernah menaruh harap lebih dan menempatkanmu pada patung hati







-Yang Terakhir
Tidak Selalu Menyenangkan
Tidak Selalu Menyakitkan-
Musim semi tahun keempat di Universitas, Keduanya saling berhadapan.
Mata mereka bertemu , satu penuh keluguan ,satu lagu penuh keteguhan.
Pemuda berambut ikal dengan kacamata tersebut dengan ketegangan penuh mulai berbicara.

“Aku menyukaimu” Dua kata singkat .Terdengar samar,kata tersebut seolah membuat tuli gadis yang sangat mengidolakan Taylor swift itu.
Perih.Dia,Farhan,tahu pasti jawaban apa yang akan didapatkanya.
“Maaf”itulah awalnya.
Dia sudah membayangkan berbagai macam kata penolakan sebelum hari ini tiba, bahkan beberapa menit Sebelum ia berdiri di depan gadis tersebut sambil memegang gulungan formalitas tanda kelulusan yang baru saja didapatkannya
Ia tahu , kata maaf tersebut bukanlah sekedar bualan ,bagaimanapun kelihatannya,bagaimanapun sikapnya ia tetaplah bisa menjadi seorang pemikir , berkuliah di Jurusan Sistem Infromatika Indera pemikirannya untuk berfikir logis di berbagai keadaan.
Mungkin juga hal tersebut lah yang membuatnya tahu apa itu cinta , jika ia tidak mengenal cinta mana mungkin ia berkata :
“A-aku tidak mencitaimu.”
Suaranya sebisa mungkin tidak bergetar. Senyuman samar terlukis di paras rupawannya. Aku tahu kau masih belum bisa melupakannya , ucap Farhan di dalam hatinya.
“Maaf aku terlalu egois… “ Tutur Farhan
Iya tahu sekali. Jauh di dalam lubuk hatinya ia sangatlah egois dan merasa bersalah  karena melakukan, ia pura-pura tidak memahami perasaan gadis yang berada didepannya , dan mungkin karena ini juga bisa merusak persahabatan mereka berdua.
Farhan masih terdiam , matanya sedari tadi memandang lurus penuh kehampaan. Kosong ia tahu bahwa hal ini akan terjadi , ia tahu Nabila akan mengatakan tidak , ia amat tahu.
Ia pikir ia dapat melewati ini dengan mudah , ia pikir tadinya ia akan tersenyum , menepuk pundak gadis itu , lalu berkata dirinya baik-baik saja dan jangan terlalu di pikirkan.
Tapi apa nyatanya. Sekarang ia membeku. Pikirnya melayang tanpa titik temu. Rasanya ingin jatuh tapi kaki nya seolah terpaku.

“Setidaknya aku sudah mengungkapkan nya kepadamu” Senyuman tulus Farhan keluarkan kepada Nabila.Sudahlah jangan tampilkan raut sedihmu , tetaplah tersenyum anggaplah hal ini tidak pernah terjadi. Ungkapnya sambil meyakinkan diri sendiri agar tetap tegar
“Hubungi dirinya” katakan kau menyukainya kerongkongan Farhan terasa kering , begitu pula dengan matanya yang menahan kesedihan.
“Tapi bagaimana dengan dirimu”. Dalam hati Nabila berkata , ia sadar bahwa selama ini ia tidak bisa menentukan siapa yang harus didahulukan. Kedua nya adalah orang yang paling ia sayangi , ia tidak pernah menghiraukan perasaan Farhan selama ini terhadapnya.
“Sekarang bukanlah waktu yang tepat , aku akan mengungkap kan perasaan ku ketika bertemu langsung kepadanya “ . Ucap Nabila Spontan.


-Terlalu memberi harapan

Seminggu berlalu. Ia masih belum bisa melupakan apa yang dikatakan Nabila kepadanya waktu itu, namun ia juga tersadar. Sudah tidak ada harapan. Ia melihat dengan kepalanya sendiri tahun lalu Nabila menuliskan sajak dan bercerita langsung kepadanya tentang seseorang yang membuatnya jatuh cinta. Sajak itu bukan lah untuk dirinya melainkan untuk orang lain.
Kali ini ia sudah menyerah sudah cukup penolakan implisit untuknya. Farhan mulai membayangkan mereka berdua berdampingan , ia tidak bisa selalu terjebak disini oleh cinta pertamanya yang bertepuk sebelah tangan.
Farhan tertawa, untuk dirinya. Tangan kananya bergerak mengusap kepala gadis itu (dalam hatinya akhirnya aku bisa juga berbesar hati) ,sedangkan gadis itu hanya terdiam sambil menatapi dirinya
“Sudahlah Nabila , aku tidak apa-apa,sekarang pergi dan katakanlah kepadanya . Beritahu dia tentang perasaanmu.
“Gadis itu menyentuh tangan dikepalanya, ia turunkan begitu mudahnya , mata cokelat terang milik gadis itu menatap mata Farhan.
“Terima kasih banyak “serunya dengan suara lantang sambil tersenyum .
“Terima kasih banyak , tanpamu aku tidak akan bisa bertahan sampai saat ini “ tangannya masih melekat erat pada pemuda yang begitu ia sayangi tersebut (sebagai teman)
Perlahan bulir-bulir air mata menetes dari sepasang kelopak milik Nabila , ia mengigit bibirnya menahan suara isakan tangis .
Farhan disana semakin terpaku , ia genggam erat kedua tangan halus dengan jemari yang lentik itu untuk terakhir kalinya.
“Jangan habiskan air matamu” genggamannya mulai mengendur”
“ Kalau aku jadi reza aku tidak suka dibuat menunggu seperti ini “ Farhan melepas genggaman tangan itu .




 -Selamat Tinggal !
Nabila Menyeka air matanya , Sebuah senyum ceria terlukis di wajahnya .Gadis itu menganggukan kepalanya berkali-kali.
“Aku akan menghubunginya , aku akan mengatakan kepada Reza “ Suara nya sudah mulai kembali normal .Salah satu hal yang Farhan kagumi dari gadis itu ialah , ia sangat pandai menyembunyikan perasaannya .
“Terima kasih telah meyakinkanku”
Nabila tidak banyak bertannya , ia paham sekali dengan Farhan , ia tahu bahwa saat itu Farhan sedang tidak ingin diganggu , maka dari itu ia segera mebalikan badannya dan beranjak pergi.
Farhan mundur beberapa langkah. Ia sandarkan punggunnya di pohon tempat mereka biasa bercerita tentang hal-hal absurd yang mereka rasakan. Matanya masih mengikutin punggung Nabila yang perlahan terlihat mengecil , secara bersamaan tanpa ia sadari tanggannya terangkat sendiri , seakan-akan hendak memegang punggung Nabila.
“Fa-Farhann…” Suara itu , Muhammad Nughroho. Farhan mengangkat kepala nya ,mencari sumber suara tersebut , ia melihat seorang pria sedang duduk di salah satu Wifi-Corner di kampus mereka  yang berjalan mendekatinya .(nughroho adalah teman dekat Farhan semasa SMA dulu).
Farhan membuka mulutnya dan bertanya “sudah berapa lama kau berada disana”? sebenarnya Farhan tidak telalu perduli apakah Nughroho melihat hal yang baru ia alami tadi atau tidak , sebab sudah menjadi rahasia umum , bahwa ia memiliki cinta yang terjebak didalam FriendZone
Tanpa menjawab pertanyaan Farhan tadi , Nugroho berbalik bertanya.
“Kapan kau akan meninggalkan Indonesia ?” pertanyaan itu sontak membuat kaget Farhan , sebab ia tidak pernah memberi tahu siapapun , kalau dirinya akan melanjutkan Pendidikan S2 nya di luar negri, Eropa tepatnya ,Walau begitu Farhan masih sama seperti sebelumnya menanggapi hal tersebut dengan santai tanpa ingin tahu siapa yang memberitahukan nugroho hal tersebut.
“Hmm kepo deh ah “ Farhan segera beranjak dari batang pohon yang ia sandarkan tadi dan berkata lagi kepada nugroho “ Jangan beri tahu siapapun”
Nugroho terdiam , hanya menggelengkan kepalanya sambil mengerutu. Ia melihat sobat karibnya berjalan pergi meninggalkannya, suara langkah kakinya mulai menghilang.
Namanya cinta mau mau sedekat apapun belum tentu kau bisa memilikinya , Nugroho gerutunya .


Seorang pria berjalan di tengah dingin dan gemerlapnya kota Roma. Ia eratkan syal yang mengikat lehernya , lalu kemudian kedua tanganya memeluk erat dirinya.
Pakaiannya sudah berlapis-lapis.Penghangat telinga sudah digunakan , tapi tetap saja dingin nya kota Roma masih mengalahkannya .
Mata hitamnya melirik beberapa pasangan yang berjalan bergandengan disekitarnya. Melihat mereka bercanda, tertawa bahagia bersama ia mengingat Sahabatnya .
“Bagaimana Kabarnya” semoga kau berbahagia bersamanya.
Sudah satu lebih Farhan tidak memberikan kabar kepada sahabatnya di perkuliahanya dulu . Ia rasa saat ia kebali nanti ocehan dan omelan akan datang sehingga membuat telinganya panas.
Reza tertawa kecil di balik syalnya yang tebal, ia percepat langkahnya menuju sebuah café yang berada tidak jauh di depanya , suara gemerincing bel terdengar ketika ia mebuka pintu café tersebut.
Setelah berdiri beberapa saat dengan mata yang bergelincir kemana-mana untuk mencari meja yang kosong akhirnya Reza kembali berjalan.
Disana ia melihat seorang gadis berambut pirang , dengan wajah putih dengan sedikit bintik merah serta mata biru khas orang-orang Eropa yang sedang duduk menghadap jendela di hadapannya.
“Maaf membuatmu menunggu” Reza menurunkan syalnya , sebuah senyum keluar darinya yang kali ini tidak terhalang oleh syal
Gadis tersebut menoleh kearahnya sambil berkata “ Tidak apa-apa selagi kau yang membayar bill “ sebuah senyum miring dengan antusias yang tinggi membuat Reza tidak bisa menahan tawanya saat itu,mereka membuka pembiacaraan dengan penuh tawa.
Dua tahun lagi Reza akan membawa gadis ini ke Negara asal nya untuk ia perkenalkan kepada rekan lamanya .Dalam hati Reza bertanya apakah berita pernikahan mereka akan lebih datang dari yang ia perkirakan ( Reza berspekulasi hal itu tidak akan terjadi karna ia tahu bagaimana sifat sahabatnya)
Dua tahun lagi ia berharap bisa melihat gadis yang pernah mengisi hatinya dulu , mengenakan kebaya dengan pasangan yang ia cintai.
“Dua tahun lagi kamu mau ke Indonesia?” tanya Reza kepada gadis yang berada didepannya sambil menutup buku menu dan memanggil pelayan
“Indonesia, Negaramu ?”  Gadis itu terdiam cukup lama , saat ia hendak menjawab pelayan sudah datang menghampiri mereka dan menanyakan apa yang ingin dipesan, tak lama pelayan itu pergi dan mata gadis itu kembali mengarah kepada Reza.
“Tentu saja aku mau “ , Aku saat ingin Negaramu tentu saja
“Bibirkanya melengkungkan senyuman manis” Syukurlah kau sudah mau kembali kesana tutur gadis itu , tapi kenapa harus Dua tahun lagi ? Minggu depan kita sudah liburan musim dingin dan tahun baru , kurasa itu sudah menjadi waktu yang tepat untuk kembali kesana mengunjungi  Sahabatmu.  “Gadis itu memanggu dagunya”
“Akan Kupertimbangkan” Tutur Reza .
Mungkin tidak jadi dua tahun lagi , mungkin saja minggu depan , bulan depan atau esok Reza akan kembali ke negaranya .
Ia berharap jika saat itu tiba , dirinya sudah siap hati dan pikiran.
Ia tidak ingin mempermalukan Gadis pilihannya ini saat ia mengunjungi Sahabtnya nanti


Berbahagialah Bersamanya Berbahagialah  Bersamanya Reviewed by Agung Kurniawan on December 13, 2018 Rating: 5

1 comment

Featured